Jumat, 05 Oktober 2012

Transmisi Budaya dan biologis serta awal perkembangan dan pengasuhan



Nama    : Catherina Ulyartha Elisabeth
Kelas     : 3PA01
NPM      : 11510524

Transmisi Budaya dan biologis serta awal perkembangan dan pengasuhan

Dibawah ini saya akan menjelaskan mengenai Transmisi budaya dan biologis. Keterkaitan antara transmisi budaya dan biologis individu sangat melekat. Transmisi budaya merupakan sebuah proses penyampaian suatu pesan yang ada sejak dahulu kala mengenai sesuatu hal yang merupakan sebuah kebiasaan dari generasi terdahulu yang masih diterapkan ke generasi sekarang. Oleh sebab itu keterkaitan antara biologis dengan transmisi budaya sangatlah besar, dimana apabila sebuah budaya masih dapat terjaga sampai pada saat ini juga dikarenakan factor biologis yang dimiliki setiap individu. 
Pengertian Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Sedangkan, biologis adalah proses yang ada pada organisme hidup. Proses ini membedakan hal-hal yang hidup dan yang tak hidup.
Sekalipun, unsure-unsur dari budaya begitu banyak, hal ini sama sekali tidak menghambat proses pelestarian kepada generasi selanjutnya, yang hal ini juga merupakan adanya keterkatian antara transmisi budaya dan biologis. Kedua hal ini saling berhubungan dan saling terkait.

Berikut merupakan bentuk-bentuk dari transmisi budaya:
1. Enkulturasi
Menurut Hansen, enkulturasi mencakup proses perolehan keterampilan bertingkah laku, pengetahuan tentang standar-standar budaya, dan kode-kode perlambangan seperti bahasa dan seni, motivasi yang didukung oleh kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan menanggapi, ideologi dan sikap-sikap. Sedangkan sosialisasi menurut Gillin dan Gillin adalah proses yang membawa individu dapat menjadi anggota yang fungsional dari suatu kelompok, yang bertingkah laku menurut standar-standar kelompok, mengikuti kebiasaan-kebiasaan kelompok , mengamalkan tradisi kelompok dan menyesuaikan dirinya dengan situasi-situasi sosial yang ditemuinya untuk mendapatkan penerimaan yang baik dari teman-teman sekelompoknya. Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini berlangsung sejak kecil, mulai dari lingkungan kecil (keluarga) ke lingkungan yang lebih besar (masyarakat). Misalnya anak kecil menyesuaikan diri dengan waktu makan dan waktu minum secara teratur, mengenal ibu, ayah, dan anggota-anggota keluarganya, adat, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam keluarganya, dan seterusnya sampai ke hal-hal di luar lingkup keluarga seperti norma, adat istiadat, serta hasil-hasil budaya masyarakat. Dalam masyarakat ia belajar membuat alat-alat permainan, belajar membuat alat-alat kebudayaan, belajar memahami unsur-unsur budaya dalam masyarakatnya. Pada mulanya, yang dipelajari tentu hal-hal yang menarik perhatiannya dan yang konkret. Kemudian sesuai dengan perkembangan jiwanya, ia mempelajari unsur-unsur budaya lainnya yang lebih kompleks dan bersifat abstrak. 
2. Sosialisasi 
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. 
3. Akulturasi 
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya.

Jenis-Jenis Transmisi Budaya
1. TRANSMISI VERTICAL 
_ GENERAL ACCULTURATION
Dari orang yang lebih tua/orang tua, pada budaya
sendiri (intra) informal
misal: anak disiplin karena melihat orang tuanya
_ SPECIFIC SOCIALIZATION
Peristiwa yang disengaja, terarah dan sistematis
misal : anak di didik untuk tidak membantah pada
orang tua
pendidikan formal
2. OBLIQUE TRANSMISION
Dari orang dewasa lain, yang budayanya sama (enkulturasi/ sosialisasi)
dari orang yang budayanya beda (akulturasi/ resosialisasi)
_ GENERAL ACULTURATION
orang dewasa yang budanya sama
anak meniru sopan-santun orang dewasa mis. dari guru
_ SPECIFIC SOCIALIZATION
misal : guru menanamkan sifat-sifat kerja sama
_ GENERAL ACCULTURATION
Orang dewasa yang berbudaya beda
misal : model pakaian
_ SPECIFIC RESOCIALIZATION
3. HORIZONTAL TRANSMISION
_ GENERAL ENCULTURATION
Dari teman sebaya pada budaya yang sama
misal : anak ikut-ikutan merokok karena ikut temannya
_ SPECIFIC SOCIALIZATION
misal : diskusi kelompok, anak mengikuti aturan bicara
bergantian
belajar main musik dari teman


Awal Perkembangan dan Pengasuhan
Berdasarkan pada awal perkembangan dan pengasuhan transmisi budaya dapat terjadi sesuai dengan yang terjadi pada masing-masing individu. Dimana proses seperti Enkulturasi, Sosialisasi, Akulturasi yang mempengaruhi perkembangan psikologis individu tergantung bagaimana individu mendapat pengasuhan dan bagaimana lingkungan dia beradaptasi dan menjalankan setiap aktifitasya. Seseorang tidak mampu berdiri sendiri, oleh sebab itu faktor individu lain sangat berpengaruh demi menjaga hubungan dengan idividu lainnya demi kelangsungan hidup bersama.



Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Proses_biologis
http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi
http://juliardibachtiar.wordpress.com/2011/03/30/enkulturasi-dan-sosialisasi/

Minggu, 30 September 2012

Psikologi Lintas Budaya



Nama  : Catherina Ulyartha Elisabeth        
Kelas   : 3PA01
NPM    : 11510524

Apa itu Psikologi Lintas Budaya?
Sudah ada yang pernah mendengar mengenai kajian ilmu ini? Mungkin kalian lebih sering mendengar mengenai ilmu Psikologi. Lalu apakah Psikologi itu? Sedikit akan saya jabarkan dengan singkat, apa Psikologi dilanjutkan mengenai pengertian konteks utama kita, yaitu Psikologi Lintas Budaya.

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.
Nah, apakah hal itu sudah cukup jelas? Setidaknya ada bayangan mengenai ilmu Psikologi sendiri. Psikologi merupakan salah satu ilmu yang cukup luas, karena hal ini berkaitan dengan perilaku manusia. Perilaku tersebut akan mempengaruhi manusia terhadap lingkungannya. Fokus utamanya adalah pada perilaku individu.
Budaya merupakan suatu konsep abstrak dan acapkali disalah artikan dengan menyetarakan istilah tersebut atau mengartikannya dalam pengertian ras, etnis (suku bangsa) atau bangsa (nationality). Padahal budaya adalah suatu konsep rumit yang merekat pada banyak aspek hidup dan kehidupan. Beberapa aspek melibatkan aspek materi seperti makanan dan pakaian, sedang beberapa lagi mengacu pada komunitas dan struktur terpisah seperti organisasi perusahaan; yang lainnya mengacu pada perilaku individu, melakukan aktivitas seperti kegiatan keagamaan.

Lalu apa itu Psikologi Lintas Budaya? Berikut adalah pengertiannya,
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.
Menurut Brislin, Lonner, Thorndike Psikologi Lintas Budaya adalah kajian empiris mengenai berbagai macam anggota kelompok budaya yang memiliki berbagai macam perbedaan pengalaman yang dapat membawa pada perbedaan perilaku. Menurut Berry Psikologi Lintas Budaya berkutat tentang kajian sistematis mengenai perilaku dan pengalaman, sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam budaya berbeda yang dipengaruhi budaya yang bersangkutan.

Tujuan Psikologi Lintas Budaya
Tujuan dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan dan perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik. Psikologi Lintas Budaya juga digunakan masyarakat luas untuk lebih mengenal tentang ragam budaya yang tersebar di seluruh Indonesia ataupun diluar Indonesia.
                 
Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan disiplin Ilmu lain
Seperti yang sudah dijelaskan tadi, Psikologi Lintas Budaya adalah ilmu mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik. Namun psikologi lintas budaya tidak hanya mempelajari faktor budaya dengan perilaku tetapi faktor antar budaya atau perbedaan budaya yang mempengaruhi perilaku manusia. Jadi menurut kesimpulan saya, hubungan antara individu secara psikologis dengan faktor budaya yang mempengaruhinya menjadi fokus utama dalam Psikologi Lintas Budaya. Lalu bagaimana hubungannya dengan ilmu Sosiologi?
Menurut ahli sosiologi lain yakni Emile Durkheim, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu. Objek dari sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Pokok bahasan dari ilmu sosiologi adalah seperti kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial.
Berdasarkan yang sudah dijelaskan diatas, kita dapat melihat bahwa hubungannya sangat dekat antara Psikologi Lintas Budaya dengan Sosiologi. Kedua ilmu ini sama-sama membahas mengenai individu. Dimana keadaan lingkungan individu seperti perilaku individu di kelompok atau masyarakat mempengaruhi psikologis individu, seperti berperasaan, bertindak, dan berpikir. Psikologi Lintas Budaya dan Sosiologi, kedua ilmu ini sama-sama menjelaskan mengenai bagaimana individu dipengaruhi dan mempengaruhi budaya, lingkungan, hubungan antar sesama dalam meningkatkan kesadaran akan perbedaan dan persamaan di setiap individu baik dalam ataupun luar negeri.
jadi Psikologi Lintas Budaya merupakan kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut, berbeda jika dibandingkan dengan Psikologi Indigenous yang menyajikan suatu pendekatan dimana muatannya (makna, nilai dan kepercayaan) bersifat kontekstual (keluarga, sosial, budaya, dan ekologi) yang secara eksplisit menggabungkannya dalam desain penelitian (Kim et. al., 2006) dan Psikologi budaya yang merupakan sebuah studi tentang cara tradisi budaya dan praktek sosial meregulasikan, mengekspresikan, mentransformasikan dan mengubah psike manusia. Psikologi budaya adalah studi tentang cara subjek dan objek, self dan other, psike dan budaya, person dan konteks, figure dan ground, praktisi dan praktek hidup bersama, memerlukan satu sama lain serta Antropologi yang adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata.

Demikian Artikel yang saya buat. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

Sumber :
http://organisasi.org/definisi-pengertian-antropologi-objek-tujuan-dan-cabang-ilmu-antropologi
http://luvvpolkadot.wordpress.com/2011/10/01/psikologi-lintas-budaya/
http://iwaslikerain.blogspot.com/2011/10/kebudayaan-indis.html
http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2558:psikologi-lintas-budaya&catid=35:artikel-dosen&Itemid=210

Rabu, 21 Maret 2012

Kasus Kesehatan Mental

KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA

Catherina Ulyartha Elisabeth
2 PA 01/ 11510524



Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.

Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu :
12 – 15 tahun
masa remaja awal, 15 – 18 tahun
masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun
masa remaja akhir.

Remaja juga berasal dari kata latin "adolensence" yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mentalemosionalsosial, danfisik (Hurlock, 1992). 

Pengertian Kesehatan Mental

Mental hygiene merujuk pada pengembangan dan aplikasi seperangkat prinsip-prinsip praktis yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan unsur psikologis dan Pencegahan dari kemungkinan timbulanya kerusakan mental atau malajudjusment. Kesehatan mental terkait dengan
(1) bagaimana kita memikirkan, merasakan menjalani kehidupan sehari-hari;
(2) bagaimana kita memandang diri sendiri dan sendiri dan orang lain; dan
(3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan. Seperti halnya kesehatan fisik, kesehatan mental sangat penting bagi setiap fase kehidupan. kesehatan mental meliputi upaya-upaya mengatasi stres, berhubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan.
Kesehatan mental tertentang dari yang baik sampai dengan yang buruk, dan setiap orang akan mengalaminya. tidak sedikit orang, pada waktu-waktu tertentu mengalami masalah-masalah kesehatan mental selama rentang kehidupannya. Fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerjasama satu sama lain sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik).
Hadfield : ”upaya memeliharaan mental yang sehat dan mencegah agar mentak tidak sakit”. 
Alexander Schneiders : ”suatu seni yang praktis dalam mengembangkan dan menggunakan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental dan penyesuaian diri, serta pencegahan dari gangguan-gangguan psikologis”. 
Carl Witherington : ”ilmu pemeliharaan kesehatan mental atau sistem tentang prinsip, metode, dan teknik dalam mengembangkan mental yang sehat”.
Alexander Schneiders : ”suatu seni yang praktis dalam mengembangkan dan menggunakan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental dan penyesuaian diri, serta pencegahan dari gangguan-gangguan psikologis”. 
Carl Witherington : ”ilmu pemeliharaan kesehatan mental atau sistem tentang prinsip, metode, dan teknik dalam mengembangkan mental yang sehat”.


Seperti yang erlansir pada artikel dibawah ini, silahkan disimak terlebih dahulu.

Kesehatan Mental Remaja di Pengaruhi dari Pergaulannya

Posted by lihatberita | Pada : 5:15 PM
Sebuah penelitian terbaru di Kanada menemukan hubungan interpersonal di rumah, sekolah dan di antara teman sebaya sangat memengaruhi kesehatan mental remaja. Peneliti mendapati para remaja perempuan mengalami masalah emosional lebih tinggi. Sedangkan remaja laki-laki cenderung mengalami masalah perilaku.

Studi dilakukan Badan Kesehatan Publik Kanada, dipimpin peneliti Universitas Queen ini meliputi 26 ribu remaja Kanada berusia 11-15 tahun. Hasilnya menunjukkan, seperlima anak laki-laki dan sepertiga anak perempuan merasa lebih sering tertekan atau merasa rendah diri dalam seminggu.

Seperempat dari anak laki-laki dan hampir sepertiga dari anak perempuan bahkan berharap mereka menjadi orang lain.

Meski begitu, sebagian besar remaja menilai mereka puas menjalani kehidupan. Mayoritas menyebut angka 8 atau lebih dari skala 10 mengenai kehidupan mereka. Secara keseluruhan, para remaja dalam studi mengatakan para orang tua lebih memahami keadaan mereka dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Untuk meneliti hubungan antara faktor-faktor kontekstual dan kesehatan mental ada satu tema kunci yang muncul, yaitu masalah hubungan interpersonal," kata John Freeman, direktur dari Universitas Queen.

Dia menjelaskan, "Tidak peduli bagaimana kesehatan mental diukur dan bagaimana hubungan interpersonal yang bersangkutan, remaja yang memiliki hubungan interpersonal yang positif cenderung memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih baik," ujarnya seperti dikutip dari CTVNews.


Seperti yang sudah dilihat dari kasus diatas menjelaskan bahwa sebagaimana besarnya pengaruh pertemanan pada kesehatan mental di remaja. Jika kita lihat, kasus diatas dapat mengingatkan kita akan Teori Belajar yang dibuat oleh Ivan Pavlov. Dimana Pavlov yang mengatakan bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi besar kepribadian seseorang. Kita dapat melihat bahwa, pengkondisian lingkungan sekitar kita dapat memberikan banyak pengaruh. Lalu, emosional yang didapatkan oleh Remaja pada kasus diatas memang sangat berpengaruh dalam hubungan pertemanan. Saya juga menambahkan teori yang diberikan oleh Erikson.


TEORI MENURUT ERIKSON
Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat berkaitan erat dengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya. Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena dia adalah seorang ilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar. Oleh sebab itu, maka di satu pihak ia menerima konsep struktur mental Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud. Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak dengan jelas bahwa yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini dipakai dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara khusus hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Sedangkan konsep perkembangan yang diajukan dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral, anal, dan genital, diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa sehingga dimasukkannya cara-cara dalam mana hubungan sosial individu terbentuk dan sekaligus dibentuk oleh perjuangan-perjuangan insting pada setiap tahapnya.
Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah sebuah asumpsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia. Proses yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic Principle” yang sudah dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan persepsinya pada saat itu bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetic. Di mana Erikson dalam teorinya mengatakan melalui sebuah rangkaian kata yaitu :
(1) Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas.
(2) Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.

Berdasarkan kasus dan teori diatas, kita dapat melihat bahwa kesehatan mental pada remaja dipengaruhi oleh lingkungan. Dikarenakan usia remaja yang merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa sehingga sangat rentan terhadap akan terjadinya gangguan pada kesehatan mental. Demikian tulisan yang saya buat, semoga bermanfaat bagi pembaca.


Sumber :

Selasa, 13 Maret 2012

Artikel Mengenai Kesehatan Mental


Tari Terapi Dan Kesehatan Mental

Dalam bentuk tubuh yang baik dapat dipengaruhi oleh gerakan eksternal. Tari terapi untuk mengobati orang dengan kondisi mental tidak seimbang didasarkan pada prinsip ini. Ini adalah pilihan yang sangat baik untuk mengembalikan kondisi mental orang yang menderita dari ketidakseimbangan. Banyak penelitian telah dilakukan dan mereka tampak menyatakan bahwa ia memang sebuah terapi yang sangat baik bagi orang-orang yang memiliki masalah psikologis atau mental.
Sebuah pertunjukan tari mengangkat suasana hati pelaku. Ini tidak hanya membantu dalam toning up struktur fisik, tapi juga nada menaiki neuron. Sebuah studi yang dilakukan oleh universitas di London telah menemukan fakta menarik. Pengujian dilakukan terhadap beberapa orang menderita salah satu atau yang lain dari kecemasan. Mereka diminta untuk mengasosiasikan dirinya dengan empat situasi kuratif yang berbeda, yaitu tari, olahraga, musik dan matematika. Hasilnya mendukung kelas tari di mana orang menderita dari kecemasan menunjukkan peningkatan luar biasa dibandingkan dengan bentuk lain dari skenario kuratif.
Ketika seseorang melihat penari pertunjukan, neuron di otak bisa diaktifkan dalam cara yang sama seolah-olah ia sendiri yang melakukan tindakan ini jelas terungkap dalam scan MRI otak. Ini berarti bahwa gerakan-gerakan tari memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan perasaan seseorang sedih atau sukacita yang secara otomatis akan diserap di seluruh tubuh. Para pemain dan orang yang melihat kinerja mereka berdua tidak menyadari bahwa mereka telah mengalami pengalaman yang mungkin mereka bahkan tidak menyadari.
Keuntungan dari terapi tari dalam mengobati penyakit mental telah memberikan cara untuk berbagai teknik.

Berdasarkan pada artikel diatas, kita dapat melihat bagaimana keterkaitan antara terapi tari dengan kesehatan mental seorang individu. Sebenarnya, apakah kesehatan mental itu?
"Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat mengemukakan, kesehatan mental adalah terhindar seseorang dari gangguan dan penyakit kejiwaan, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-masalah dan kegoncangan-kegoncangan biasa, adanya keserasian fungsi-fungsi jiwa (tidak ada konflik) dan merasa bahwa dirinya berharga, berguna dan bahagia, serta dapat menggunakan potensi yang ada padanya seoptimal mungkin."

Artikel Terapi Tari tersebut sudah dapat terlihat bagaimana pengaruhnya terapi tari terhadap kesehatan mental seseorang, melalui terapi tari seseorang dapat meluapkan emosional yang ada pada dalam dirinya sedih, senang, kecewa, dan perasaan yang muncul dari dalam dirinya. Gerakan-gerakan yang mereka lakukan ternyata memancing neuron pada seseorang untuk diaktifkan. Dengan cara meluapkan emosi yang ada pada diri seseorang mampu dapat menjaga kesehatan mental individu. 
Demikian, pembahasan kesehatan mental yang saya berikan berdasarkan pada artikel yang telah saya berikan diatas. Semoga ini dapat menambahkan wawasan dan berguna bagi pembaca. Terima Kasih.

Sumber :